Menu Utama


Form Login

Username
Password

Kebenaran yang hilang

Root - E-books
Tanggal: Wed, 5 September 2018 | Oleh: | Dibaca: 136 | Didownload: 2
Faraj Faudah dan Jalan Menuju Toleransi Samsu Rizal Panggabean pakah kita harus mendengarkan Faraj Faudah? Lahir pada 1945, ia adalah doktor di bidang ekonomi pertanian. Ia juga pernah berafiliasi dengan partai politik, seperti Partai Wafd dan Partai Istiqlal. Tetapi, ia lebih dikenal sebagai pemikir,penggiat hak asasi manusia, dan komentator sosial. Mestinya, ini semua bukan kegiatan yang berbahaya. Namun, pada 8 Juni 1992, Faraj Faudah (juga sering ditulis Farag Fouda/Fuda, termasuk dalam edisi terjemahan Indonesia ini) ditembak mati di Madinat al-Nasr, Kairo. Seorang anaknya dan beberapa orang lain terluka parah dalam insiden yang sama. Ia dibunuh dua penyerang bertopeng dari kelompok Jamaah Islamiyah (Gamaa Islamiyya). Mengapa? Beberapa hari sebelum dibunuh, tanggal 3 Juni, sekelompok ulama dari Universitas al-Azhar mengeluarkan pernyataan bahwa Faudah, berdasarkan pikiran dan tulisannya, telah menghujat agama dan karenanya keluar dari Islam. Ini berarti, ia adalah musuh Islam dan halal darahnya. Di sini, labelisasi halal berarti boleh dibunuh. Sebelumnya, kelompok ulama yang sama menerbitkan daftar nama-nama orang yang memusuhi Islam dan Faudah berada di urutan pertama. Para pembunuhnya bertolak dari dua dokumen ini.1 Boleh jadi, keputusan membunuh Faudah telah diambil beberapa bulan sebelumnya. Pada bulan Januari 1992, berlangsung debat hebat dalam rangka Pameran Buku Kairo. Ada dua kubu yang berdebat. Yang satu terdiri dari Faudah dan Muhammad Ahmad Khalafallah (lahir 1916), dan kubu yang lain terdiri dari Muhammad al-Ghazali (1917-1996), Ma’mun al-Hudaibi, dan Muhammad Imara. Konon, 30.000 orang menghadiri debat yang sempat difilmkan tetapi tidak pernah ditayangkan ke publik.2 Dalam konteks polarisasi ideologis di Mesir ketika itu, kubu pertama adalah sekularis, dan kubu kedua adalah Islamis. Yang diperdebatkan adalah hubungan antara agama dan politik, negara dan agama, penerapan syariat Islam, dan institusi khilafah. Masalah-masalah yang diperdebatkan di atas, tentu saja, bukan masalah baru. Jauh sebelumnya, sejak awal abad ke-20, topik-topik tersebut telah dibicarakan kalangan ulama dan cendekiawan Mesir. Akan tetapi, baru pada tahun 1980-an, dan berlangsung hingga awal 1990-an, polemik kedua kubu mencapai puncaknya. Pada masa ini, gelombang besar Islamisme menerpa negara-negara Timur Tengah termasuk Mesir. Dari gelombang ini, muncul berbagai kelompok radikal dan ganas yang belum tentu saling menyukai.

Untuk dapat mendownload file ini anda harus login terlebih dahulu

Komentar/ review


Belum ada komentar/ review pada pustaka ini